Senin, 11 Juli 2016

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

Menurut American Accounting Assosiation yang dikutip oleh Hendri Soemantri bahwa, “Akuntansi sebagai proses identifikasi, pengukuran dan komunkasi informasi ekonomi untuk memungkinkan pembuatan pertimbangan – pertimbangan dan kepututsan – keputusan oleh para pemakai informasi tersebut”.

Menurut Mulyadi (2001 : 3), “Sistem informasi akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh manajmen guna memudahkan pengelolaan perusahaan”.

Sistem informasi akuntansi adalah metode dan prosedur untuk mencatat dan melaporkan informasi keuangan yang disediakan bagi perusahaan atau suatu organisasi bisnis. Sistem informasi akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan besar sangat kompleks. Kompleksitas sistem tersebut disebabkan oleh kekhususan dari sistem yang dirancang untuk suatu organisasi bisnis sebagai akibat dari adanya perbedaan kebutuhan akan informasi oleh manajer, bentuk dan jalan transaksi laporan keuangan.
Sistem informasi akuntansi terdiri dari dokumen bukti transaksi, alat – alat pencatatan, laporan dan prosedur yang digunakan perusahaan  untuk mencatat transaksi – transaksi serta melaporkan hasilnya. Operasi suatu sistem informasi akuntansi meliputi tiga tahap :
A. Harus mengenal dokumen bukti transaksi yang digunakan oleh perusahaan, baik mengenai jumlah fisik maupun jumlah rupiahnya, serta data penting lainnya yang berkaitan dengan transaksi perusahaan.
B. Harus mengelompokkan dan mencatat data yang tercantum dalam dokumen bukti transaksi ke dalam catatan – catatan akuntansi.
C. Harus meringkas informasi yang tercantum dalam catatan – catatan akuntansi menjadi laporan – laporan untuk manajemen dan pihak – pihak lain yang berkepentingan.
Dari uraian di atas sistem informasi akuntansi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk mengumpulkan, mengorganisir, dan mengikhtisarkan tentang berbagai transaksi perusahaan secara efisien yang digunakan untuk membatu manajemen dalam menangani operasi perusahaannya.
1.1.   Unsur – unsur Sistem Informasi Akuntansi
Fungsi sistem informasi akuntansi adalah mendorong seoptimal mungkin agar sistem tersebut dapat dipercaya. Unsur – unsur yang terdapat dalam suatu sistem informasi akuntansi saling berkaitan satu sama lain, sehingga dapat dilakukan pengolahan data mulai dari awal transaksi sampai dengan pelaporan yang dapat dijadikan  sebagai informasi akuntansi.
Untuk itu, unsur – unsur akuntansi menurut Mulyadi dalam bukunya Sistem Akuntansi (2000 : 3) adalah sebagai berikut :
a.     Formulir, merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya transaksi. Dengan formulir ini, data yang bersangkutan dengan transaksi yang direkam pertama kali dijadikan dasar dalam pencatatan.
b.  Jurnal (General Journal), merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat, mengkarifikasi, dan meringkas data keuangan dan data lainnya. Dalam jurnal ini pula terdapat kegiatan peringkasan data, yang hasil peringkasannya kemudian diposting ke rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
c.   Buku Besar Umum (General Ledger), terdiri dari rekening – rekening yang digunakan untuk meringkas data keuangan yang telah dicatat sebelumnya dalam jurnal. Rekening buku besar ini di satu pihhak dapat dipandang sebagai wadah untuk mengolongkan data keuangan, di pihak lain dapat dipandang pula sebagai sumber informasi keuangan untuk penyajian laporan keuangan.
d. Buku Besar Pembantu (Subsidiary Ledger), terdiri dari rekening – rekening pembantu yang merinci data keuangan yang tercantum dalam rekening tertentu dalam buku besar. Buku besar dan buku pembantu merupakan catatan akuntansi akhir yang berarti tidak ada catatan akuntansi lain lagi sesudah data akuntansi diringkas dan digolongkan dalam rekening buku besar dan buku pembantu.
Laporan merupakan hasil akhir proses akuntansi yang berupa neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan laba ditahan, laporan harga pokok produksi, laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok penjualan, daftar umur piutang, daftar utang yang akan dibayar, dan daftar saldo persediaan yang lambat penjualannya.

1.2.   Satuan Pengendalian Internal dalam Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Kredit.
Pengendalian internal adalah suatu proses yang dilaksanakan oleh direktur, manajemen, dan personal lain dalam suatu kesatuan bisnis, didesain untuk memberikan kepercayaan terkait dengan usaha pencapaian tujuan. Tujuan ini disebutkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan operasional, kehandalan dengan kebijakan serta aturan organisasi. Tujuan pengendalian internal dalam sistem informasi akuntansi adalah :
1. Menjaga asset perusahaan.
2. Memberi keyakinan akan akurasi dan kendala (accurate and realible).
3. Mengusahakan efisiensi operasional.
4. Mendorong pekerja untuk mengikuti kebijakan manajemen.
Sistem informasi akuntansi yang baik membutuhkan perancangan sistem yang baik pula. Di dalam sistem informasi akuntansi tersebut adanya struktur pengendalian internal. Efektifitas pelaksanaan pengendalian internal juga perlu dievaluasi. Semakin sistem informasi akuntansi dirancang dengan baik, bahwa pengendalian internal akan semakin efektif, ditaati dan berjalan sebagaimana mestinnya.

Menurut Mulyadi (2001 : 222), “Untuk merancang unsur – unsur pengendalian internal yang diterapkan dala sistem penjualan kredit, unsur pokok pengendalian internal yang terdiri dari organisasi, sistem otorisasi, dan prosedur pencatatan, praktik yang sehat dirinci lebih lanjut”.

Berikut ini adalah unsur pengedalian internal dalam sistem informasi akuntansi :
a.       Struktur Organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas :
1. Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kredit.
2. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penjualan dan fungsi kredit.
3. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi kas.
4. Transaksi penjualan kredit harus dilaksanakan oleh fungsi penjulan, fungsi kredit, fungsi pengiriman, fungsi penagihan dan fungsi akuntansi.
b.      Sistem otorisasi prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, hutang, pendapatan dan biaya :
1. Penerimaan order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan.
2. Persetujuan pembelian kredit disetujui oleh fungsi kredit dengan membubuhkan tanda tangan pada credit copy (yang merupakan tembusan surat order pengiriman).
3. Pengiriman barang kepada pelanggan diotorisasi oleh fungsi pengiriman dengan cara menandatangani dan membubuhkan cap “sudah dikirim” pada copy surat order pengiriman.
4. Penetapan harga jual, syarat penjualan, syarat pengangkutan barang, dan potongan penjualan berada di tangan Ditektur Pemasaran dengan penerbitan sutar keputusan mengenai hal tersebut.
5. Terjadinya piutang diotorisasi oleh fungsi penagihan dengan mebubuhkan tanda tangan pada faktur penjualan.
6. Pencatatan ke dalam faktur piutang dank e dalam jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas dan jurnal umum diotorisasi oleh fungsi akuntansi dengan cara membubuhkan tanda tangan pada dokumen sumber (faktur penjualan, bukti kas masuk, dan memo kredit).
7. Pencatatan terjadinya piutang didasarkan pada faktur penjualan yang didukung dengan surat order pengiriman dan surat muat.
c.       Praktek sehat adalah praktek - praktek sehat harus dijalankan dalam melaksanakan tugas – tugas dan fungsi – fungsi setiap bagian organisasi yaitu sebagai berikut :
1. Surat order pengiriman bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan.
2. Faktur penjualan bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penagihan.
3. Secara periodik, fungsi akuntansi mengirim pernyataan (account receivable statement) kepada setiap debitur untuk menguji ketelitian catatan piutang yang diselenggarakan oleh fungsi tersebut.
4. Secara periodik, diadakan rekonsiliasi kartu piutang dengan rekening control piutang dalam buku besar.
d.      Kualitas pegawai. Unsur mutu pegawai merupakan unsur – unsur sistem pengendalian internal yang paling penting. Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, maka unsur pengendalian yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum, perusahaan pasti dapat menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang bisa diandalkan.
Sistem informasi akuntansi dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan – keputusan atau kebijaksanaan – kebijaksanaan dalam mengendalikan perusahaan guna mencapai tujuannya. Menurut Mulyadi (2001) tujuan umum pengembangan sistem informasi akuntansi adalah :
a.       Untuk menyediakan informasi bagi pengelola kegiatan usaha baru.
b.      Untuk memperbaiki informasi yang diihasilkan oleh Sistem yang sudah ada, baik mengenai mutu, ketepatan penyajian, maupun struktur informasinya.
c.       Untuk memperbaiki tingkat keandalan (reliability) informasi akuntansi dan untuk menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggungjawaban dan perlindungan kekayaan perusahaan. 
d.  Untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyelenggaraan catatan akuntansi.